<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>theSULAEMAN&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://thesulaemans.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://thesulaemans.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 21 Jan 2010 13:41:59 +0000</lastBuildDate>
	<language></language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='thesulaemans.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/3a67245298cc812515d8d200b41c7122?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>theSULAEMAN&#039;s Blog</title>
		<link>http://thesulaemans.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://thesulaemans.wordpress.com/osd.xml" title="theSULAEMAN&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://thesulaemans.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>KEUNGGULAN SYARIAT ISLAM</title>
		<link>http://thesulaemans.wordpress.com/2010/01/21/keunggulan-syariat-islam/</link>
		<comments>http://thesulaemans.wordpress.com/2010/01/21/keunggulan-syariat-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 13:41:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cheppy1601</dc:creator>
				<category><![CDATA[Syariat Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesulaemans.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai dien yang paripurna, yang diturunkan Allah SWT kepada seluruh umat manusia. Islam datang dengan membawa syariat yang sempurna. Di antara keunggulan syariat Islam adalah penerapannya yang dinamis, fleksibel dan universal. Berlaku bagi semua manusia di semua tempat dan zaman serta mampu memenuhi semua kebutuhan umat manusia. Syariat Islam pun cocok diaplikasikan untuk menjawab masalah-masalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesulaemans.wordpress.com&amp;blog=11361624&amp;post=13&amp;subd=thesulaemans&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai dien yang paripurna, yang diturunkan Allah SWT kepada seluruh umat manusia. Islam datang dengan membawa syariat yang sempurna. Di antara keunggulan syariat Islam adalah penerapannya yang dinamis, fleksibel dan universal. Berlaku bagi semua manusia di semua tempat dan zaman serta mampu memenuhi semua kebutuhan umat manusia. Syariat Islam pun cocok diaplikasikan untuk menjawab masalah-masalah kontemporer.</p>
<p>Sedemikian rinci dan mendalamnya syariat Islam mengatur kehidupan manusia, sehingga tidak ada satu pun aspek kehidupan yang luput dari perhatiannya. Maka, mengkaji untuk mengetahui dan memahami syariat Islam secara detil menjadi tuntutan ilmiah.</p>
<p>Ajaran Syariat Islam menjadi ajaran yang amat menyeluruh. Syariat Islam mengatur etika bernegara hingga bertetangga. Syariat Islam pun mengatur cara berucap salam dan berpakaian, hingga do&#8217;a tidur dan masuk toilet. Islam bukan sekedar agama dalam kertas identitas, bukan sekedar agama ritual semata, tapi seharusnya menjadi <strong>way of life</strong> yang dipegang teguh dalam kehidupan. Islam mengantarkan umat manusia meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Dimensi yang diajarkan bukan sebatas surga dan neraka, tapi juga tentang bagaimana meraih kenikmatan dunia dalam batas kemuliaan yang ditentukan oleh Sang Khalik.</p>
<p><strong>&#8230;sesungguhnya warisan Nabi tak terbatas zaman. Ia menjadi abadi dalam semesta kehidupan. Ada &#8220;tangan-tangan&#8221; yang menjaganya, kekuatan yang memeliharanya, karena warisannya adalah petunjuk yang mengeluarkan dari ketersesatan dengan amat sempurna. Warisannya melampaui batas akhir zaman: Al Qur&#8217;an dan Hadist.</strong> (Negeri Sukun, Ahmad Fuady)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thesulaemans.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thesulaemans.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thesulaemans.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thesulaemans.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thesulaemans.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thesulaemans.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thesulaemans.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thesulaemans.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thesulaemans.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thesulaemans.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thesulaemans.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thesulaemans.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thesulaemans.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thesulaemans.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesulaemans.wordpress.com&amp;blog=11361624&amp;post=13&amp;subd=thesulaemans&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesulaemans.wordpress.com/2010/01/21/keunggulan-syariat-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/15b08302addbaadebcb1742a79419d36?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cheppy1601</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menolak Pluralisme</title>
		<link>http://thesulaemans.wordpress.com/2010/01/21/menolak-pluralisme/</link>
		<comments>http://thesulaemans.wordpress.com/2010/01/21/menolak-pluralisme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 13:18:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cheppy1601</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesulaemans.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: M. Shiddiq al-Jawi Istilah Pluralisme (agama) sebenarnya mengandung 2 (dua) hal sekaligus, Pertama, deskripsi realitas bahwa di sana ada keanekaragaman agama. Kedua, perspektif atau pendirian filosofis tertentu menyikapi realitas keanekaragaman agama yang ada. Hal itu misalnya dapat ditelaah dalam penjelasan Josh McDowell mengenai definisi pluralisme. Menurut McDowell, ada dua macam pluralisme; Pertama, pluralisme tradisional [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesulaemans.wordpress.com&amp;blog=11361624&amp;post=11&amp;subd=thesulaemans&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh: M. Shiddiq al-Jawi<br />
</em>Istilah Pluralisme (agama) sebenarnya mengandung 2 (dua) hal  sekaligus, Pertama, deskripsi realitas bahwa di sana ada keanekaragaman  agama. Kedua, perspektif atau pendirian filosofis tertentu menyikapi  realitas keanekaragaman agama yang ada.</p>
<p>Hal itu misalnya dapat ditelaah dalam penjelasan Josh McDowell  mengenai definisi pluralisme. Menurut McDowell, ada dua macam  pluralisme; Pertama, pluralisme tradisional (Social Pluralism) yang kini  disebut “negative tolerance”. Pluralisme ini didefinisikan sebagai  “respecting others beliefs and practices without sharing them”  (menghormati keimanan dan praktik ibadah pihak lain tanpa ikut serta  [sharing] bersama mereka). Kedua, pluralisme baru (Religious Pluralism)  disebut dengan “positive tolerance” yang menyatakan bahwa “every single  individual’s beliefs, values, lifestyle, and truth claims are equal”  (setiap keimanan, nilai, gaya hidup dan klaim kebenaran dari setiap  individu, adalah sama (equal) (<a href="http://www.ananswer.org/mac/answeringpluralism.html">http://www.ananswer.org/mac/answeringpluralism.html</a>,  diakses 11/06/05).</p>
<p>Dari pengertian pluralisme agama McDowell di atas, jelas bahwa yang  dia sampaikan bukan sekedar fakta, tapi sudah menyangkut opini, yaitu  suatu sikap atau pandangan filosofis tertentu dalam menilai fakta.  Pendirian filosofis itu nampak dari penilaian, bahwa semua keimanan,  nilai, gaya hidup dan klaim kebenaran, adalah sama/setara (equal).</p>
<p>Maka dari itu, adalah suatu penyesatan atau disinformasi yang  disengaja, kalau dikatakan bahwa pluralisme adalah hukum Tuhan atau  sunnatullah. Benar, bahwa adanya keanekaragaman realitas, itu  sunnatullah. Tapi perspektif atau pendirian filosofis tertentu menyikapi  realitas plural itu, jelas bukan sunnatullah yang bersifat universal,  melainkan suatu pendapat yang unique dan mengandung nilai atau pandangan  hidup tertentu (value-bound).</p>
<p>Sebagai jalan keluar dan upaya klarifikasi, sebaiknya digunakan dua  istilah, yaitu pluralitas, yang menunjuk pada fakta adanya kemajemukan,  dan pluralisme, yang menunjuk pada opini atau perspektif tertentu dalam  memandang realitas plural yang ada.</p>
<p>Terlepas dari itu, wacana pluralisme agama yang marak dewasa ini  memang patut dikritisi secara cermat. Sebab di samping ada kerancuan  pengertian seperti dijelaskan di atas (dalam pluralisme itu terkandung  deskripsi fakta dan pendirian filosofis sekaligus), juga ada beberapa  hal lain yang patut untuk dikritisi. Setidaknya ada 4 (empat) poin  kritik terhadap pluralisme agama:</p>
<p>Pertama, aspek normatif. Secara normatif, yaitu dari kacamata Aqidah  Islamiyah, pluralisme agama bertentangan secara total dengan Aqidah  Islamiyah. Sebab pluralisme agama menyatakan bahwa semua agama adalah  benar. Jadi, Islam benar, Kristen benar, Yahudi benar, dan semua agama  apa pun juga adalah sama-sama benar. Ini menurut Pluralisme. Adapun  menurut Islam, hanya Islam yang benar (Qs. Ali-Imran [3]: 19), agama  selain Islam adalah tidak benar dan tidak diterima oleh Allah SWT (Qs.  Ali-Imran [3]: 85).</p>
<p>Biasanya para penganjur pluralisme berdalil dengan Qs. al-Baqarah  [2]: 62 dan Qs. al-Mâ’idah [5]: 69. Dalam Qs. al-Baqarah [2]: 62 Allah  berfirman:</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang Yahudi, Nashrani, dan  Shabiin, barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir dan  mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala dari Tuhan mereka dan  tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak pula bersedih hati.”  (Qs. al-Baqarah [2]: 62).</p>
<p>Ayat itu oleh kaum pluralis-inklusif, dipahami sebagai pembenaran  agama selain Islam, yaitu Yahudi, Kristen, dan Shabiin. Jadi, Islam,  Yahudi, Kristen, Shabiin sama-sama benarnya.</p>
<p>Pemahaman seperti itu salah, karena dua alasan. Pertama, pemahaman  itu mengabaikan ayat-ayat lain yang menjelaskan kekafiran golongan  Yahudi dan Nasrani, misalnya ayat dalam Qs. al-Bayyinah [98] atau Qs.  al-Mâ’idah [5]: 72-75. Jadi, pemahaman kaum pluralis itu didasarkan pada  metode penafsiran yang mengucilkan satu ayat, lalu ayat itu dipenjara  dalam satu kotak sempit (bernama pluralisme), sementara ayat-ayat lain  diabaikan begitu saja. Kedua, orang Yahudi, Kristen, dan Shabiin yang  selamat, maksudnya adalah mereka yang beriman dan menjalankan amal saleh  secara benar sebelum datangnya Muhammad Saw. Bukan setelah diutusnya  Muhammad Saw (orang Kristen dan Yahudi sekarang). Sababun Nuzul ayat ini  sebagaimana diriwayatkan al-Wahidi dan as-Suyuthi, adalah adanya  pertanyaan dari sahabat bernama Salman al-Farisi ra kepada Nabi Saw  tentang nasib kawan-kawannya dulu (Kristen) sebelum dia masuk Islam.  Nabi menjawab, “Mereka di neraka.” Lalu turunlah ayat di atas yang  menerangkan nasib baik mereka kelak di Hari Kiamat (Lihat kitab Lubabun  Nuqul, As-Suyuthi, dan Asbabun Nuzul, Al-Wahidi).</p>
<p>Kedua, aspek orisinalitas. Asal-usul paham pluralisme bukanlah dari  umat Islam, tapi dari orang-orang Barat, yang mengalami trauma konflik  dan perang antara Katolik dan Protestan, juga Ortodok. Misalnya pada  1527, di Paris terjadi peristiwa yang disebut The St Bartholomeus Day’s  Massacre. Pada suatu malam di tahun itu, sebanyak 10.000 jiwa orang  Protestan dibantai oleh orang Katolik. Peristiwa mengerikan semacam  inlah yang lalu mengilhami revisi teologi Katolik dalam Konsili Vatikan  II (1962-1965). Semula diyakini bahwa extra ecclesiam nulla salus  (outside the church no salvation), tak ada keselamatan di luar gereja.  Lalu diubah, bahwa kebenaran dan keselamatan itu bisa saja ada di luar  gereja (di luar agama Katolik/Protestan). Jadi, paham pluralisme agama  ini tidak memiliki akar sosio historis yang genuine dalam sejarah dan  tradisi Islam, tapi diimpor dari setting sosio historis kaum Kristen di  Eropa dan AS.</p>
<p>Ketiga, aspek inkonsistensi gereja. Andaikata hasil Konsili Vatikan  II diamalkan secara konsisten, tentunya gereja harus menganggap agama  Islam juga benar, tidak hanya agama Kristen saja yang benar. Tapi, fakta  menunjukkan bahwa gereja tidak konsisten. Buktinya, gereja terus saja  melakukan kristenisasi yang menurut mereka guna menyelamatkan  domba-domba yang sesat (baca: umat Islam) yang belum pernah mendengar  kabar gembira dari Tuhan Yesus. Kalau agama Islam benar, mengapa  kritenisasi terus saja berlangsung? Ini artinya, pihak Kristen sendiri  tidak konsisten dalam menjalankan keputusan Konsili Vatikan II tersebut.</p>
<p>Keempat, aspek politis. Secara politis, wacana pluralisme agama  dilancarkan di tengah dominasi kapitalisme yang Kristen, atas Dunia  Islam. Maka dari itu, arah atau sasaran pluralisme patut dicurigai dan  dipertanyakan, kalau pluralisme tujuannya adalah untuk menumbuhkan hidup  berdampingan secara damai (peacefull co-existence), toleransi, dan  hormat menghormati antar umat beragama. Menurut Amnesti Internasional,  AS adalah pelanggar HAM terbesar di dunia. Sejak Maret 2003 ketika AS  menginvasi Irak, sudah 100.000 jiwa umat Islam yang dibunuh oleh AS.  Jadi, pertanyaannya, mengapa bukan AS yang menjadi sasaran penyebaran  paham pluralisme? Mengapa umat Islam yang justru dipaksa bertoleransi  terhadap arogansi AS? Bukankah AS yang sangat intoleran kepada bangsa  dan umat lain, khususnya umat Islam? Bukankah tentara AS di Guantonamo  (Kuba) yang membuang al-Qur’an ke dalam WC? Mengapa umat Islam yang  justru dipaksa ramah, tersenyum, dan toleran kepada AS, padahal justru  umat Islamlah yang menjadi korban hegemoni AS yang biadab, kejam,  brutal, sadis, dan tak berperikemanusiaan?</p>
<p>Dari keempat gugatan terhadap pluralisme di atas, kiranya dapat  dipetik suatu kesimpulan yang berharga, bahwa ide pluralisme agama wajib  ditolak. Sebab ide tersebut bertentangan secara normatif dengan Aqidah  Islam, tidak orisinal alias palsu karena tumbuh dalam setting sosio  historis Barat, diimplementasikan secara inkonsisten, dan membahayakan  umat Islam secara politis, karena akan membius umat agar tidak sadar  telah diinjak-injak oleh hegemoni AS.</p>
<p>Tujuan akhir dari konsep pluralisme agama sangat mudah dibaca, yaitu  agar umat Islam hancur Aqidahnya, sehingga hegemoni kapitalisme yang  kafir atas Dunia Islam semakin paripurna dan total. Karena Barat sangat  memahami, bahwa Aqidah Islam adalah rahasia atau kunci vitalitas dan  kebangkitan umat Islam. Maka kalau tidak segera dihancurkan, umat Islam  akan bisa menjadi potensi ancaman serius untuk hegemoni Barat di masa  datang. Maka sebelum umat Islam bangkit, Aqidah Islam dalam dada mereka  harus dihancurkan dan dimusnahkan, agar umat Islam takluk dan tunduk  patuh sepenuh-penuhnya kepada kaum penjajah kafir. Itulah tujuan  sebenarnya dari wacana pluralisme agama ini, tidak ada yang lain. [ ]</p>
<p>Sumber: www.khilafah1924.org</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thesulaemans.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thesulaemans.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thesulaemans.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thesulaemans.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thesulaemans.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thesulaemans.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thesulaemans.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thesulaemans.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thesulaemans.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thesulaemans.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thesulaemans.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thesulaemans.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thesulaemans.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thesulaemans.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesulaemans.wordpress.com&amp;blog=11361624&amp;post=11&amp;subd=thesulaemans&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesulaemans.wordpress.com/2010/01/21/menolak-pluralisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/15b08302addbaadebcb1742a79419d36?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cheppy1601</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pluralisme Bertentangan dengan Islam, Haram Menyebarkan dan Menerapkannya</title>
		<link>http://thesulaemans.wordpress.com/2010/01/21/8/</link>
		<comments>http://thesulaemans.wordpress.com/2010/01/21/8/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 13:11:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cheppy1601</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tsaqafah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesulaemans.wordpress.com/2010/01/21/8/</guid>
		<description><![CDATA[Bersamaan dengan meninggalnya Gus Dur, isu pluralisme kembali menjadi perbincangan. Presiden SBY pun secara khusus memberikan gelar  “Bapak Pluralisme” untuk Gus Dur. Padahal MUI sendiri dalam fatwanya No.7/MUNAS VII/MUI/11/2005 telah dengan jelas-jelas menyebutkan bahwa pluralisme adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam, dan umat Islam haram mengikuti paham tersebut. Bagaimana sesungguhnya pluralisme itu dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesulaemans.wordpress.com&amp;blog=11361624&amp;post=8&amp;subd=thesulaemans&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2010/01/pluralisme.gif"><img title="pluralisme" src="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2010/01/pluralisme.gif" alt="" width="163" height="164" /></a>Bersamaan dengan meninggalnya Gus  Dur, isu pluralisme kembali menjadi perbincangan. Presiden SBY pun  secara khusus memberikan gelar  “Bapak Pluralisme” untuk Gus Dur.  Padahal MUI sendiri dalam fatwanya No.7/MUNAS VII/MUI/11/2005 telah  dengan jelas-jelas menyebutkan bahwa pluralisme adalah paham yang  bertentangan dengan ajaran agama Islam, dan umat Islam haram mengikuti  paham tersebut. Bagaimana sesungguhnya pluralisme itu dan bagaimana  pandangan Islam terhadapnya ?</p>
<p>Pluralisme didefinisikan sebagai paham yang mengakui adanya pemikiran  beragam -agama, kebudayaan, peradaban, dan lain-lain.  Kadang-kadang  pluralisme juga diartikan sebagai paham yang menyatakan, bahwa kekuasaan  negara harus diserahkan kepada beberapa golongan (kelompok), dan tidak  boleh dimonopoli hanya oleh satu golongan. Merujuk pada definisi kedua  ini, Ernest Gellner menyebut model masyarakat yang menjunjung tinggi  hukum dan hak-hak individu sebagai masyarakat sipil (<em>civil society</em>).    Gellner juga menyatakan bahwa civil society merupakan ide yang  menggambarkan suatu masyarakat yang terdiri dari lembaga-lembaga otonom  yang mampu mengimbangi kekuasaan negara.</p>
<p>Kemunculan ide pluralisme –terutama pluralisme agama- didasarkan pada  sebuah keinginan untuk melenyapkan truth claim yang dianggap sebagai  pemicu munculnya ekstrimitas, radikalisme agama, perang atas nama agama,  konflik horizontal, serta penindasan antar umat agama atas nama agama.  Menurut kaum pluralis, konflik dan kekerasan dengan mengatasnamakan  agama baru sirna jika masing-masing agama tidak lagi menganggap agamanya  paling benar (lenyapnya truth claim).   Adapun dilihat dari cara  menghapus truth claim, kaum pluralis terbagi menjadi dua kelompok besar.   Kelompok pertama berusaha menghapus identitas agama-agama, dan  menyerukan terbentuknya agama universal yang mesti dianut seluruh umat  manusia.   Menurut mereka, cara yang paling tepat untuk menghapus truth  claim adalah mencairkan identitas agama-agama, dan mendirikan apa yang  disebut dengan agama universal (global religion).  Sedangkan kelompok  kedua menggagas adanya kesatuan dalam hal-hal transenden (unity of  transenden).   Dengan kata lain, identitas agama-agama masih  dipertahankan, namun semua agama harus dipandang memiliki aspek gnosis  yang sama.   Menurut kelompok kedua ini, semua agama pada dasarnya  menyembah Tuhan yang sama, meskipun cara penyembahannya berbeda-beda.    Gagasan kelompok kedua ini bertumpu pada ajaran filsafat perennial yang  memandang semua agama menyembah Realitas Mutlak yang sama, dengan cara  penyembahan yang berbeda-beda.</p>
<p>Inilah gagasan-gagasan penting seputar ide pluralisme agama yang saat  ini dipropagandakan di dunia Islam melalui berbagai cara dan media,  misalnya dialog lintas agama, doa bersama, dan lain sebagainya.   Pada  ranah politik, ide pluralisme didukung oleh kebijakan pemerintah yang  harus mengacu kepada HAM dan asas demokrasi.   Negara memberikan jaminan  sepenuhnya  kepada setiap warga Negara untuk beragama, pindah agama  (murtad), bahkan mendirikan agama baru.   Setiap orang wajib menjunjung  tinggi prinsip kebebasan berfikir dan beragama, seperti yang dicetuskan  oleh para penggagas paham pluralisme.</p>
<p><strong>Argumentasi Para Penggagas Pluralisme Agama dan Koreksinya</strong></p>
<p>Meskipun ide pluralisme –baik yang beraliran agama global maupun  kesatuan transenden — ditujukan untuk meredam konflik akibat adanya  keragaman agama, dan truth claim,  namun ide ini ujung-ujungnya malah  menambah jumlah agama baru dengan truth claim yang baru pula.   Wajar  saja jika ide ini mendapat tantangan keras dari agama beserta  pemeluknya, terutama Islam dan kaum Muslim.  Oleh karena itu, para  pengusung gagasan pluralisme berusaha dengan keras mencari pembenaran  dalam teks-teks agama agar paham ini (pluralisme) bisa diterima oleh  kaum Muslim.   Adapun alasan-alasan yang sering mereka ketengahkan untuk  membenarkan ide pluralisme tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>a.    Surat al-Hujurat Ayat 13</strong></p>
<p><strong></strong>Allah swt telah berfirman;</p>
<p dir="rtl">يَاأَيُّهَا  النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ  شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ  أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ</p>
<p><em>“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari  laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan  bersuku-suku agar saling mengenal.  Sesungguhnya orang yang paling  mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah. </em>“(al-Hujurat:13).</p>
<p>Menurut kaum pluralis, ayat ini menunjukkan adanya pengakuan Islam  terhadap ide pluralisme.</p>
<p><strong>Koreksi:</strong></p>
<p>Pada dasarnya, ayat ini sama sekali tidak berhubungan dengan ide  pluralisme agama yang diajarkan oleh kaum pluralis.   Ayat ini hanya  menjelaskan keberagaman (pluralitas) suku dan bangsa.   Ayat ini sama  sekali tidak menunjukkan bahwa Islam mengakui ‘klaim-klaim kebenaran”  (truth claim) dari agama-agama, isme-isme, dan peradaban-peradaban  selain Islam.  Ayat ini juga tidak mungkin dipahami, bahwa Islam  mengakui keyakinan kaum pluralis yang menyatakan, bahwa semua agama yang  ada di dunia ini menyembah Satu Tuhan, seperti Tuhan yang disembah oleh  kaum Muslim.   Ayat ini juga tidak mungkin diartikan, bahwa Islam telah  memerintahkan umatnya untuk melepaskan diri dari identitas agama Islam,  dan memeluk agama global (pluralisme).   Ayat ini hanya menerangkan,  bahwa Islam mengakui adanya pluralitas (keragaman) suku dan bangsa,  serta identitas-identitas agama selain Islam; dan sama sekali tidak  mengakui kebenaran ide pluralisme.</p>
<p>Agar kita bisa memahami makna ayat tersebut di atas, ada baiknya kita  simak kembali penjelasan para mufassir yang memiliki kredibilitas ilmu  dan ketaqwaan.</p>
<p>Dalam kitab Shafwaat al-Tafaasir, Ali al-Shabuniy menyatakan, “Pada  dasarnya, umat manusia diciptakan Allah swt dengan asal-usul yang sama,  yakni keturunan Nabi Adam as. Tendensinya, agar manusia tidak  membangga-banggkan nenek moyang mereka.  Kemudian Allah swt menjadikan  mereka bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar mereka saling mengenal  dan bersatu, bukan untuk bermusuhan dan berselisih.  Mujahid berkata,  “Agar manusia mengetahui nasabnya; sehingga bisa dikatakan bahwa si  fulan bin fulan dari kabilah anu’.  Syekh Zadah berkata, “Hikmah  dijadikannya kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar satu dengan  yang lain mengetahui nasabnya.  Sehingga, mereka tidak menasabkan kepada  yang lain….Akan tetapi semua itu tidak ada yang lebih agung dan mulia,  kecuali keimanan dan ketaqwaannya.  Sebagaimana sabda Rasulullah saw,  “Barangsiapa menempuhnya ia akan menjadi manusia paling mulia, yakni,  bertaqwalah kepada Allah.”</p>
<p>Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa surat Hujurat ayat  13 hanya menunjukkan bahwa Islam mengakui adanya pluralitas (keragaman)  suku, bangsa, agama, dan lain-lain.  Adanya keragaman suku, bangsa,  bahasa, dan agama merupakan perkara alami.  Hanya saja, Islam tidak  pernah mengajarkan bahwa semua agama adalah sama-sama benarnya.  Islam  juga tidak pernah mengajarkan bahwa semua agama menyembah Tuhan yang  sama, meskipun cara penyembahannya berbeda-beda.  Bahkan, Islam menolak  klaim kebenaran yang dikemukakan oleh penganut-penganut agama selain  Islam, dan menyeru seluruh umat manusia untuk masuk ke dalam Islam, jika  mereka ingin selamat dari siksa api neraka.  Perhatikan ayat-ayat  berikut ini;</p>
<p dir="rtl">لِكُلِّ  أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي  الْأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ(<strong>٦٧</strong>)وَإِنْ جَادَلُوكَ فَقُلِ  اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَعْمَلُونَ(٦٨)اللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ  الْقِيَامَةِ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ(٦٩)أَلَمْ تَعْلَمْ  أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي  كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ(٧٠)وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ  اللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَا لَيْسَ لَهُمْ بِهِ  عِلْمٌ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ(<strong>٧١</strong>)</p>
<p><em>“Tiap umat mempunyai cara peribadatan sendiri, janganlah kiranya  mereka membantahmu dalam hal ini.  Ajaklah mereka ke jalan Rabbmu.   Engkau berada di atas jalan yang benar.”  Kalau mereka membantahmu juga,  katakanlah, Allah tahu apa yang kalian kerjakan.  Rabb akan memutuskan  apa yang kami perselisihkan di hari akhir.  Apa mereka tidak tahu bahwa  Allah mengetahui apa yang ada di langit dan bumi.    Semua itu ada di  dalam pengetahuanNya , semua itu mudah bagi Allah.  Mereka menyembah  selain Allah tanpa keterangan yang diturunkan Allah, tanpa dasar ilmu.   Mereka adalah orang-orang dzalim yang tidak mempunyai pembela.”</em> (al-Hajj:67-71).</p>
<p>Ayat ini dengan tegas menyatakan, bahwa Islam mengakui adanya  pluralitas (keragaman) agama.  Hanya saja, Islam tidak pernah mengakui  kebenaran (truth claim) agama-agama selain Islam.   Tidak hanya itu  saja, ayat ini juga menegaskan bahwa agama-agama selain Islam itu  sesungguhnya menyembah kepada selain Allah swt.   Lalu, bagaimana bisa  dinyatakan, bahwa Islam mengakui ide pluralisme yang menyatakan bahwa  semua agama adalah sama-sama benarnya, dan menyembah kepada Tuhan yang  sama?</p>
<p>Di ayat yang lain, al-Quran juga menegaskan bahwa agama yang diridloi  di sisi Allah swt hanyalah agama Islam.</p>
<p dir="rtl">إِنَّ  الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ</p>
<p><em>“Sesungguhnya agama yang diridloi di sisi Allah hanyalah Islam.”</em> (Ali Imron:19).</p>
<p dir="rtl">وَمَنْ  يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي  الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ</p>
<p><em>“Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali  tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat  termasuk orang-orang yang merugi.</em>” (Ali Imron:85).</p>
<p>Pada tempat yang lain, Allah swt menolak klaim kebenaran semua agama  selain Islam, baik Yahudi dan Nashrani, Zoroaster, dan lain sebagainya.   Al-Quran telah menyatakan masalah ini dengan sangat jelas.</p>
<p dir="rtl">وَمِنَ  النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ  كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ  يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ  لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ</p>
<p>“<em>Dan diantara manusia ada yang mendewa-dewakan selain daripada  Allah, dan mencintainya sebagaimana mencintai Rabb, lain dengan orang  yang beriman, mereka lebih mencintai Allah. Kalau orang lalim itu tahu  waktu melihat adzab Allah niscaya mereka sadar sesungguhnya semua  kekuatan itu milik Allah, dan Allah amat pedih siksaNya.”</em>(al-Baqarah:165).</p>
<p dir="rtl">وَقَالَتِ  الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ  ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ  الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ</p>
<p>“<em>Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang  Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan  mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir  yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai  berpaling?”</em> (al-Taubah:30)</p>
<p dir="rtl">اتَّخَذُوا  أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ  وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا  وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ</p>
<p><em>“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka  sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih  putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha  Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah  dari apa yang mereka persekutukan.”</em> (al-Taubah:31)</p>
<p dir="rtl">وَقَالَتِ  الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ  فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ  يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَلِلَّهِ مُلْكُ  السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ</p>
<p><em>“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah  anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa  Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah  dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara  orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang  dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan  Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara keduanya.  Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).”</em> (al-Maidah:18)</p>
<p dir="rtl">لَقَدْ  كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ</p>
<p><em>“Sungguh telah kafir, mereka yang mengatakan, “Tuhan itu ialah  Isa al-Masih putera Maryam.”</em>(al-Maidah:72)</p>
<p>Ayat-ayat di atas –dan masih banyak ayat yang lain– menyatakan dengan  sangat jelas (<em>qath’iy</em>), bahwa Islam telah menolak truth claim  semua agama selain Islam.  Islam juga menyatakan dengan tegas, bahwa  konsepsi Ketuhanan Islam berbeda dengan agama selain Islam yang ada pada  saat ini, alias tidak sama.   Sedangkan agama Yahudi dan Nashraniy  sebelum disimpangkan oleh penganutnya, dahulunya masih memiliki konsepsi  ketuhanan yang sama dengan agama Islam, yakni tauhid.  Hanya saja,  karena keculasan para penganutnya, akhirnya dua agama menyimpang jauh  dari konsepsi tauhid.  Dari sini bisa dipahami, bahwa Islam tidak sama  dengan agama yang lain yang ada pada saat ini, baik dari sisi cara  penyembahan (bentuk empirik), maupun konsepsi ketuhanannya (aspek  gnosis).   Fakta nash telah menunjukkan kesimpulan ini dengan sangat  jelas.   Oleh karena itu, menyamakan Islam dengan agama selain Islam  jelas-jelas keliru dan menyesatkan, bahkan terkesan dipaksakan.</p>
<p>Seandainya ide pluralisme agama ini memang diakui di dalam Islam,  berarti, tidak ada satupun orang yang masuk ke neraka dan kekal di  dalamnya.   Padahal, al-Quran telah menjelaskan dengan sangat jelas,  bahwa orang Yahudi, Nashrani, dan kaum Musyrik, tidak mungkin masuk ke  surganya Allah, akan tetapi mereka kekal di dalam neraka.   Perhatikan  ayat berikut ini.</p>
<p dir="rtl">وَقَالُوا  لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ  أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ</p>
<p><em>“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan  masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”.  Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah:  “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. </em>(al-Baqarah:111)</p>
<p>Dari seluruh uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa surat al-Hujurat  ayat 13 bukanlah pembenar bagi ide pluralisme agama.  Ayat tersebut  hanya berbicara pada konteks pluralitas suku, bangsa, dan agama, dan  sama sekali tidak berbicara pada konteks gagasan pluralisme, seperti  yang diklaim para pengusung ide pluralisme.  Bahkan, nash-nash al-Quran  jelas-jelas telah menyatakan pertentangan Islam dengan ide pluralisme.</p>
<p>Demikianlah, Islam sama sekali tidak mengakui kebenaran ide  pluralisme, baik ide agama global maupun kesatuan transenden.  Islam  hanya mengakui adanya pluralitas agama dan keyakinan, serta mengakui  adanya identitas agama-agama selain Islam.   Islam tidak memaksa pemeluk  agama lain untuk masuk Islam.  Mereka dibiarkan memeluk keyakinan dan  agama mereka.  Hanya saja, pengakuan Islam terhadap pluralitas agama  tidak boleh dipahami bahwa Islam juga mengakui kebenaran (truth claim)  agama selain Islam.</p>
<p>Adapun untuk memecahkan masalah pluralitas agama dan keyakinan, Islam  memiliki sikap dan pandangan yang jelas; yakni mengakui identitas  agama-agama selain Islam, dan membiarkan pemeluknya tetap dalam agama  dan keyakinannya.  Islam tidak akan melenyapkan identitas agama-agama  selain Islam, seperti gagasan kelompok pluralis pertama (global  religion).</p>
<p>Akhirnya, pluralisme adalah paham sesat yang bertentangan ‘aqidah  Islam. Siapapun yang mengakui kebenaran agama selain Islam, atau  menyakini bahwa orang Yahudi dan Nashrani masuk ke surga, maka dia telah  murtad dari Islam.</p>
<p><strong>b. Islam Tidak Memaksa Manusia untuk Masuk ke Dalam Agama  Islam</strong></p>
<p>Ayat lain yang sering digunakan dalil untuk membenarkan ide  pluralisme adalah ayat;</p>
<p dir="rtl">لَا  إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ  يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ  بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ</p>
<p><em>“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya  telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu  barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka  sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang  tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”</em> (al-Baqarah:256)</p>
<p>Surat al-Baqarah ayat 256 ini sering dieksploitasi untuk membenarkan  ide pluralisme.  Mereka menyatakan, Islam tidak memaksa pemeluk agama  lain untuk masuk ke dalam Islam, bahkan mereka dibiarkan tetap dalam  agama mereka.  Ini menunjukkan, bahwa Islam mengakui kebenaran agama  selain Islam (pluralisme), tidak hanya sekedar mengakui pluralitas  (keragaman) agama.</p>
<p><strong>Koreksi:</strong></p>
<p>Sesungguhnya, ayat ini tidak bisa digunakan dalil untuk membenarkan  ide pluralisme.  Ayat ini hanya berbicara pada konteks “tidak ada  pemaksaan bagi penganut agama lain untuk masuk Islam”.   Sebab, telah  tampak kebenaran Islam melalui hujjah dan dalil yang nyata.   Oleh  karena itu, Islam tidak akan memaksa penganut agama lain untuk masuk  Islam.  Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan, bahwa Islam membenarkan  keyakinan dan ajaran agama selain Islam.   Bahkan, ayat ini telah  menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa kebenaran itu ada di dalam agama  Islam, sedangkan agama yang lain jelas-jelas bathilnya.  Hanya saja,  kaum Muslim tidak diperbolehkan memaksa penganut agama lain untuk masuk  ke dalam Islam.</p>
<p>Imam Qurthubiy di dalam Tafsir Qurthubiy menyatakan, bahwa yang  dimaksud dengan <em>al-diin</em> pada ayat di atas (al-Baqarah:256)  adalah <em>al-mu’taqid wa al-millah </em>(keyakinan dan agama).   Sedangkan kandungan isi ayat ini, seperti yang dituturkan oleh Imam Ibnu  Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir, adalah; sesungguhnya seorang Muslim  tidak boleh memaksa orang kafir untuk masuk Islam.  Sebab, kebenaran  Islam telah terbukti berdasarkan hujjah yang terang dan gamblang;  sehingga, tidak perlu lagi memaksa para penganut agama lain untuk masuk  ke dalam Islam.</p>
<p>Ayat ini tidak berhubungan sama sekali dengan ide pluralisme yang  diusung oleh kaum pluralis.  Bahkan, ayat ini menyatakan dengan jelas,  bahwa Islam adalah agama yang paling benar, sekaligus menolak truth  claim agama-agama selain Islam.   Tidak adanya pemaksaan atas penganut  agama lain untuk masuk Islam hanya menunjukkan bahwa Islam mengakui  identitas agama mereka.  Akan tetapi, Islam tidak mengakui sama sekali  truth claim agama mereka.   Bahkan, kaum Muslim diperintahkan untuk  mengajak orang-orang kafir masuk ke dalam agama Islam dengan hujjah dan  hikmah.</p>
<p dir="rtl">لِكُلِّ  أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي  الْأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ</p>
<p>“<em>Tiap umat mempunyai cara peribadatan sendiri, janganlah kiranya  mereka membantahmu dalam hal ini.  Ajaklah mereka ke jalan Rabbmu.   Engkau berada di atas jalan yang benar.”</em> (al-Hajj:67)</p>
<p><strong>c. Surat al-Maidah : 69 dan Surat al-Baqarah: 62</strong></p>
<p>Dua ayat ini juga sering digunakan dalil oleh kaum pluralis untuk  membenarkan paham pluralisme.  Mereka menyatakan, bahwa dua ayat ini  menyatakan dengan sangat jelas, bahwa Islam mengakui kebenaran  agama-agama selain Islam, bahkan mereka juga memiliki kans yang sama  untuk masuk ke dalam surganya Allah swt.  Dua ayat tersebut adalah:</p>
<p dir="rtl">إِنَّ  الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى  مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا  خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang  Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang  benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh,  mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran  terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”</em>(al-Maidah:69)</p>
<p dir="rtl">إِنَّ  الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ  مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ  أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ  يَحْزَنُونَ</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, Shabiin dan  orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar  beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada  kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” </em>(al-Baqarah:62).</p>
<p>Sesungguhnya, ayat ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan  penganut agama lain yang ada pada saat ini.   Sebab, topik yang  diperbincangkan ayat tersebut adalah umat-umat terdahulu sebelum  diutusnya Nabi Mohammad saw.  Ayat ini menjelaskan kepada kita, bahwa  umat-umat terdahulu, baik Yahudi, Nashrani, Shabi’un, yang taat kepada  ajaran agamadan Rasulnya, maka mereka akan mendapatkan pahala di sisi  Allah swt.  Akan tetapi,  ayat di atas tidak menunjukkan pengertian,  bahwa Islam mengakui <em>truth claim</em> agama-agama lain yang ada pada  saat ini, baik Yahudi, Nashrani, Zoroaster, dan sebagainya.  Dua ayat  di atas tidak menunjukkan pengertian, bahwa pemeluk agama lain yang ada  pada saat ini juga memiliki kans yang sama untuk masuk ke dalam surganya  Allah swt, seperti halnya pemeluk agama Islam.  Sebab, nash-nash  al-Quran dan Sunnah dengan jelas menyatakan, bahwa setelah diutusnya  Mohammad saw, seluruh manusia diperintahkan untuk meninggalkan agama  mereka.  Bahkan, Islam telah menjelaskan kesesatan dan kekafiran semua  agama yang ada pada saat ini; baik agama  Yahudi, Nashrani, maupun agama  kaum Musyrik (Budha, Hindu, Konghucu, dan lain-lain).</p>
<p>Untuk menafsirkan surat al-baqarah ayat 62, ada baiknya kita simak  penuturan ahli tafsir berikut ini:</p>
<p>Menurut al-Sudiy, ayat ini (al-Baqarah: 62) turun berkenaan dengan  shahabat-shahabatnya (pendeta-pendeta) Salman al-Farisi; tatkala ia  menceritakan kepada Nabi saw kebaikan-kebaikan mereka.  Salman ra  bercerita kepada Nabi saw, “Mereka mengerjakan sholat, berpuasa, dan  beriman kepada kenabian Anda, dan bersaksi bahwa Anda akan diutus oleh  Allah swt sebagai seorang Nabi.”  Tatkala Salman selesai memuji para  shahabatnya, Nabi saw bersabda, “Ya Salman, mereka termasuk ke dalam  penduduk neraka.”  Selanjutnya, Allah swt menurunkan ayat ini.  Lalu hal  ini menjadi keimanan orang-orang Yahudi; yaitu, siapa saja yang  berpegang teguh terhadap Taurat, serta perilaku Musa as hingga datangnya  Isa as (maka ia selamat). Ketika Isa as telah diangkat menjadi Nabi,  maka siapa saja yang tetap berpegang teguh kepada Taurat dan mengambil  perilaku Musa as, namun tidak memeluk agama Isa as, dan tidak mau  mengikuti Isa as, maka ia akan binasa.  Demikian pula orang Nashraniy.  Siapa saja yang berpegang teguh kepada Injil dan syariatnya Isa as  hingga datangnya Mohammad saw, maka ia adalah orang Mukmin yang amal  perbuatannya diterima oleh Allah swt. Namun, setelah Mohammad saw  datang, siapa saja yang tidak mengikuti Nabi Mohammad saw, dan tetap  beribadah seperti perilakunya Isa as dan Injil, maka ia akan mengalami  kebinasaan.”</p>
<p>Imam Ibnu Katsir menyatakan, “Setelah ayat ini diturunkan,  selanjutnya Allah swt menurunkan surat, “Barangsiapa mencari agama  selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)  daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi.”[Ali  Imron:85].  Ibnu ‘Abbas menyatakan, “Ayat ini menjelaskan bahwa tidak  ada satupun jalan (agama, kepercayaan, dll), ataupun perbuatan yang  diterima di sisi Allah, kecuali jika jalan dan perbuatan itu berjalan  sesuai dengan syari’atnya Mohammad saw.  Adapun, umat terdahulu sebelum  nabi Mohammad diutus, maka selama mereka mengikuti ajaran nabi-nabi pada  zamanya dengan konsisten, maka mereka mendapatkan petunjuk dan  memperoleh jalan keselamatan.”   Inilah pengertian surat al-Baqarah:62;  dan surat al-Maidah:59.</p>
<p>Dari uraian di atas jelaslah, dua ayat di atas ditujukan kepada  umat-umat terdahulu sebelum diutusnya Nabi Mohammad saw.  Topiknya  sangat jelas, bahwa umat-umat terdahulu yang mengikuti agama nabinya  dengan konsisten pada zaman itu; semisal umat Yahudi yang konsisten  mengikuti kitab Taurat, menyakini dan menjalankan isinya, maka mereka  akan mendapatkan pahala di sisi Allah swt.    Adapun setelah Nabi  Mohammad saw diutus di muka bumi ini, maka tidak ada satupun agama  –selain Islam—yang mampu menyelamatkan pemeluknya dari kekafiran,  kecuali jika mereka mau memeluk Islam.  Ayat ini sama sekali tidak  menunjukkan, bahwa ahlul kitab dan kaum musyrik –setelah diutusnya  Mohammad saw—terkategori muslim, dan berhak memperoleh pahala dari Allah  swt.</p>
<p>Selain itu, pemelintiran makna yang dilakukan oleh kelompok pluralis  terhadap ayat-ayat itu [al-Baqarah:62 dan al-Maidah:69], tentu saja akan  bertolak belakang dengan sabda Rasulullah saw.  Rasulullah saw  bersabda, <em>“Demi Dzat yang jiwa Mohammad ada di tanganNya, tidaklah  seseorang dari manusia yang mendengar aku,  Yahudi, dan Nashrani,  kemudian mati, sedangkan ia tidak beriman dengan apa yang diturunkan  kepadaku, kecuali ia menjadi penghuni neraka.”</em> [HR. Muslim dan  Ahmad]</p>
<p>Rasulullah saw bersabda,<em> “Tidak ada nabi, di antara aku dan ia,  yakni ‘Isa as, sesungguhnya ia adalah tamu.  Bila kalian melihatnya,  maka kalian akan mengenalnya sebagai seorang laki-laki  yang mendatangi  sekelompok kaum yang berwarna merah dan putih, seakan kepalanya turun  hujan, bila ia tidak menurunkan hujan, maka akan basah, Dan ia akan  memerangi manusia atas Islam, menghancurkan salib, membunuhi babi,  mengambil jizyah, saat itu Allah menghancurkan seluruh agama kecuali  Islam, sedangkan ‘Isa as menghancurkan Dajjal.  Dan ia berada di muka  bumi selama 40 tahun, kemudian wafat dan kaum muslimin mensholatkannya.”</em> (HR. Abu Dawud)</p>
<p>Al-Quran sendiri telah memberikan predikat Ahli Kitab –Yahudi dan  Nashrani—sebagai orang-orang musyrik.  Allah swt berfirman: “Maha Suci  Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (al-Taubah:31). Redaksi  sebelumnya dinyatakan, bahwa orang-orang Yahudi berkata, “‘Uzair adalah  putera Allah” dan orang Nashrani berkata,” Al Masih putera Tuhan”.</p>
<p>Ayat ini menjelaskan kepada kita, bahwa orang-orang Yahudi dan  Nashrani terkategori kaum musyrik, bukan Muslim.  Lantas, bagaimana bisa  disimpulkan; kaum Yahudi dan Nashrani yang ada sekarang ini terkategori  Muslim dan berhak mendapatkan pahala dari Allah swt, sementara itu  mereka telah kafir dan musyrik?  Bukankah Allah swt telah berfirman di  dalam al-Quran:</p>
<p><em>“Oleh karena itu, siapa yang mempersekutukan Allah, maka ia tidak  diperkenankan oleh Allah masuk surga, dan tempat kembalinya adalah  neraka.”</em>(al-Maidah:72).</p>
<p><em>“Sungguh telah kafir  mereka yang mengatakan bahwa  Tuhan itu  ketiga dari yang ke tiga, padahal Tuhan itu hanya satu.  Jika mereka  belum berhenti berkata demikian, tentulah mereka yang kafir itu, akan  mendapat siksa yang sangat pedih.”</em> (al-Maidah:73)</p>
<p>“<em>Sesungguhnya agama yang diridloi di sisi Allah hanyalah Islam.”</em>(Ali  Imron:19)</p>
<p><em>“Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali  tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat  termasuk orang-orang yang merugi.” (</em>Ali Imron:85).</p>
<p>Dari seluruh uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa surat al-Baqarah  ayat 62 dan surat al-Maidah ayat 59 sama sekali tidak berhubungan  dengan paham pluralisme.</p>
<p><strong>d. Ayat Tentang Kalimatun Sawa’</strong></p>
<p>Para pengusung ide pluralisme juga menggunakan ayat-ayat al-Quran  yang berbicara tentang kalimatun sawa’.</p>
<p dir="rtl">قُلْ  يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا  وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا  وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ  تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ</p>
<p><em>“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu  kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu,  bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia  dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian  yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka  katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang  yang berserah diri (kepada Allah).” </em>(Ali Imron:64])</p>
<p>Para pengusung gagasan pluralisme mengatakan, bahwa agama Yahudi,  Kristen, dan Islam merupakan agama langit yang memiliki prinsip-prinsip  ketuhanan dan berasal dari Tuhan yang sama.   Lebih jauh mereka juga  menyatakan, bahwa umat Islam, Yahudi, dan Kristen berasal dari keturunan  Ibrahim as; sehingga ketiga pemeluk agama besar itu memiliki akar  kesejarahan dan nasab yang sama.   Mereka pun menyimpulkan, bahwa tidak  ada perbedaan antara Islam, Yahudi, dan Nashraniy dalam masalah  ketuhanan.  Semua menyembah kepada Allah, dan sama-sama berpegang kepada  kalimat sawa’. Dengan kata lain, Islam pun pada dasarnya mengakui  kebenaran konsep ketuhanan agama Yahudi dan Kristen sekarang ini.   Akhirnya, agama Yahudi, Kristen, dan Islam adalah sama-sama benarnya dan  sama-sama punya kans masuk ke surganya Allah swt. Sesungguhnya,  penafsiran kaum pluralis tersebut, benar-benar telah menyimpang jauh  dari makna sebenarnya.</p>
<p>Untuk mengetahui makna hakiki dari frase kalimat sawa’, kita dapat  merujuk kepada ulama tafsir yang lebih kredibel dan netral dari  kepentingan barat, diantaranya adalah Imam Ibnu Katsir.</p>
<p>Menurut Ibnu Katsir, frase “kalimat” di dalam surat Ali Imron ayat 64  tersebut dipakai untuk menyatakan kalimat sempurna yang dapat dipahami  maknanya.  Kalimat sempurna itu adalah “sawaa’ bainanaa wa bainakum”  (yang sama, yang tidak ada perbedaan antara kami dengan kalian).   Frase  ini merupakan sifat yang menjelaskan kata “kalimat” yang memiliki makna  dan pengertian tertentu.   Adapun makna hakiki yang dituju oleh frase  “kalimatun sawaa’ sawaa’ bainanaa wa bainakum” adalah kalimat tauhid,  yaitu “allaa na’budu illaa Al-Allah” (hendaknya kita tidak menyembah  selain Allah).   Inilah makna sesungguhnya dari kalimat sawa’, yaitu  kalimat Tauhid; yang menyatakan bahwa tidak ada sesembahan (ilah) yang  berhak untuk disembah kecuali Allah swt; bukan patung, rahib, api, dan  sebagainya.  Kalimat ini (kalimat tauhid) adalah kalimat yang dibawa dan  diajarkan oleh seluruh Rasul yang diutus oleh Allah swt, termasuk di  dalamnya Musa as dan Isa as.   Allah swt berfirman:</p>
<p dir="rtl">وَلَقَدْ  بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ  وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ</p>
<p><em>“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat  (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”.”</em> (al-Nahl:36)</p>
<p dir="rtl">وَمَا  أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ  لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ</p>
<p>“<em>Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan  Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak)  melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. </em>(al-Anbiyaa’:25)</p>
<p>Dari sini dapat disimpulkan, bahwa surat Ali Imron ayat 64 di atas  sama sekali tidak menyerukan kesatuan agama, atau pembenaran Islam atas  truth claim agama-agama selain Islam.   Sebaliknya, ayat tersebut justru  berisikan ajakan kepada ahlul kitab (baik Yahudi dan Nashraniy) untuk  kembali mentauhidkan Allah swt, sebagaimana yang telah diajarkan pertama  kali oleh Musa as dan  Isa as.   Sebab, kaum Yahudi dan Nashrani telah  menyimpang jauh dari konsepsi Tauhid.  Mereka telah menjadikan ahbar  (pendeta-pendeta) dan ruhban (rahib-rahib) sebagai sesembahan selain  Allah swt.   Hal ini telah dijelaskan di dalam al-Quran dengan sangat  jelas.  Allah swt berfirman:</p>
<p dir="rtl">اتَّخَذُوا  أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ  وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا  وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ</p>
<p><em>“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka  sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih  putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha  Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah  dari apa yang mereka persekutukan.”</em> (al-Taubah:31)</p>
<p>Walaupun ayat ini tidak menyatakan, bahwa ahbar itu ditujukan khusus  untuk kaum Yahudi, dan ruhban untuk kaum Nashrani, akan tetapi konsensus  pengguna bahasa Arab telah memahami, bahwa dua kata tersebut khusus  untuk orang Yahudi dan Nashrani.</p>
<p>Dari sinilah bisa dipahami, bahwa ayat ini merupakan seruan kepada  orang Yahudi dan Nashrani agar mereka kembali ke jalan Tauhid, setelah  mereka menyimpang jauh dari jalan tersebut (tauhid); yaitu ketika orang  Yahudi mengatakan bahwa Uzair itu anak Allah, dan tatkala orang Nashrani  mengatakan bahwa Isa as adalah putera Tuhan.   Surat Ali Imron di atas  tidak lain tidak bukan adalah ajakan agar orang Yahudi dan Nashraniy  meninggalkan kemusyrikannya dan kembali menyembah kepada Allah swt  semata, dan mengikuti ajaran Mohammad saw.</p>
<p>Demikianlah, ayat ini sama sekali tidak berbicara pada konteks  kesatuan dan kesamaan agama seperti yang dinyatakan oleh kaum pluralis.   Ayat ini sama sekali juga tidak menunjukkan, bahwa Islam mengakui  gagasan pluralisme yang dijajakan di negeri kaum Muslim.  Sebaliknya,  ayat ini merupakan ajakan dan seruan kepada ahlul kitab agar mereka  kembali kepada jalan yang lurus, yakni agama Tauhid seperti yang telah  diajarkan oleh Musa dan Isa as. WaLlâh a’lam bi al-shawâb<strong> (Syamsuddin Ramadhan &#8211; Lajnah Tsaqafiyyah HTI).</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/thesulaemans.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/thesulaemans.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/thesulaemans.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/thesulaemans.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/thesulaemans.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/thesulaemans.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/thesulaemans.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/thesulaemans.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/thesulaemans.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/thesulaemans.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/thesulaemans.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/thesulaemans.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/thesulaemans.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/thesulaemans.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=thesulaemans.wordpress.com&amp;blog=11361624&amp;post=8&amp;subd=thesulaemans&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesulaemans.wordpress.com/2010/01/21/8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/15b08302addbaadebcb1742a79419d36?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cheppy1601</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2010/01/pluralisme.gif" medium="image">
			<media:title type="html">pluralisme</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
